Desa Bawomataluo merupakan salah satu desa adat tertua di Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Desa ini berada di Kecamatan Fanayama, di atas perbukitan dengan ketinggian sekitar 263–270 meter di atas permukaan laut. Letaknya yang berada di dataran tinggi menjadikan desa ini dikenal dengan nama Bawomataluo, yang berasal dari kata “Bawo” yang berarti bukit dan “Mataluo” yang berarti matahari, sehingga Bawomataluo dapat dimaknai sebagai “Bukit Matahari”.
Awal mula berdirinya Desa Bawomataluo tidak terlepas dari sejarah Desa Orahili Fau, sebuah desa lama yang terkenal sebagai salah satu desa berbenteng terkuat di Pulau Nias. Desa Orahili Fau memiliki sistem pertahanan yang kokoh berupa pagar bambu runcing, batu-batu besar, dan jebakan tanah berlubang sehingga sulit ditembus oleh musuh. Pada masa itu, desa dipimpin oleh seorang raja atau Balö Ji’ulu bernama Laheluu, seorang pemimpin yang dikenal tangguh dan berwibawa. Karena ketangguhannya melawan kolonial Belanda, Laheluu bahkan dijuluki oleh Belanda sebagai “De Verdrijver der Hollanders”, yang berarti raja yang tidak dapat ditaklukkan.
Namun, kekuatan Orahili Fau akhirnya runtuh akibat pengkhianatan dari pihak luar yang membocorkan lokasi berkumpulnya para si’ulu (bangsawan adat). Belanda kemudian berhasil menyerang, menduduki, dan membakar desa tersebut pada pertengahan abad ke-19. Peristiwa ini memaksa masyarakat Orahili Fau mengungsi ke daerah Barujö Sifaedo, di perbatasan Mazinö dan Lahusa. Setelah beberapa tahun mengungsi, masyarakat kembali ke wilayah asal, tetapi kondisi desa yang telah hancur membuat mereka memutuskan mencari lokasi permukiman baru.
Masyarakat kemudian menemukan sebuah bukit datar yang strategis untuk dijadikan tempat tinggal baru. Di lokasi inilah mereka mendirikan sebuah permukiman bernama Hilifanayama, yang berarti gunung yang luas. Seiring perkembangan waktu, sekitar tahun 1862, nama Hilifanayama diubah menjadi Bawomataluo. Nama ini mencerminkan letak geografis desa yang berada di atas bukit dan mendapatkan cahaya matahari secara terbuka. Sejak saat itu, Bawomataluo berkembang menjadi pusat permukiman adat dan pusat kekuasaan tradisional masyarakat setempat.
Setelah Raja Laheluu wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh Laowo Jiduhu, kemudian diteruskan oleh Saonigeho. Pada masa-masa berikutnya sempat terjadi konflik internal di kalangan bangsawan adat (si’ulu), sehingga sebagian masyarakat kembali ke wilayah lama dan mendirikan kembali kampung di Orahili. Meski demikian, Bawomataluo terus berkembang dan tetap bertahan sebagai pusat adat serta simbol kebesaran budaya masyarakat Nias Selatan.
Keunikan Desa Bawomataluo tampak pada tata ruang dan arsitektur rumah adatnya. Rumah-rumah adat di desa ini tersusun berjejer rapi membentuk pola linier di sepanjang jalan utama desa, dengan Omo Sebua atau rumah raja berada di bagian tengah sebagai pusat kekuasaan adat. Hingga kini masih terdapat lebih dari seratus rumah adat tradisional (Omo Hada) yang tetap berdiri dan dihuni oleh masyarakat. Keutuhan tata ruang, arsitektur rumah, serta keberadaan batu-batu megalitik menjadikan Bawomataluo sebagai salah satu kawasan adat terpenting di Nias Selatan.
Selain dikenal sebagai pusat permukiman adat, Desa Bawomataluo juga memiliki sejarah budaya perang yang kuat. Salah satu warisan budaya paling terkenal adalah tradisi lompat batu (Hombo Batu atau Fahombo), yaitu atraksi melompati tumpukan batu setinggi sekitar dua meter. Pada masa lalu, tradisi ini merupakan bagian dari latihan fisik bagi para pemuda untuk mempersiapkan diri menghadapi peperangan antar kampung. Kini, tradisi tersebut tetap dilestarikan sebagai identitas budaya dan atraksi wisata utama desa.
Selain tradisi perang, masyarakat Bawomataluo juga mengenal kisah-kisah adat, legenda, dan mitos yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah legenda Daro-Daro ni Otumba, yaitu tempat pelaksanaan hukuman adat berat bagi pelanggar hukum adat, terutama bagi pelaku pengkhianatan (sanada erogolo). Tempat ini menjadi simbol kuatnya penegakan hukum adat pada masa lalu. Ada pula mitos tentang asal-usul bumi Nias yang diwariskan secara lisan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat.
Nilai sejarah, budaya, dan arsitektur Desa Bawomataluo menjadikannya diakui sebagai kawasan warisan budaya penting. Desa ini telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional dan sejak tahun 2009 masuk dalam daftar tentatif Warisan Dunia UNESCO, karena dianggap memiliki nilai universal luar biasa dari segi arsitektur tradisional, warisan megalitik, serta tradisi budaya yang masih hidup hingga saat ini.
Dengan sejarah panjang yang berakar dari perjuangan masyarakat Orahili Fau, sistem kerajaan adat, tradisi peperangan, dan kekayaan budaya leluhur, Desa Bawomataluo kini tidak hanya menjadi simbol identitas masyarakat Nias Selatan, tetapi juga menjadi warisan budaya yang bernilai tinggi bagi Indonesia dan dunia.
Desa Wisata Bawomataluo
Contact Us