CAGAR BUDAYA DESA WISATA BAWÖMATALUO

 

1.    BAWAGÖLI NDRÖLÖ ANA'A (PINTU MASUK UTAMA)

Sejarah:
Ndrölö Ana’a merupakan pintu masuk utama Desa Bawomataluo yang memiliki nilai budaya, ekonomi, dan politik bagi masyarakat setempat. Tangga ini dibangun pada masa awal berdirinya desa, meskipun tahun pembangunannya tidak diketahui secara pasti. Jumlah anak tangga menuju halaman desa adalah 81 anak tangga.

Jumlah tersebut dipilih karena masyarakat Nias pada masa itu tidak memperbolehkan penggunaan angka genap. Walaupun belum mengenal agama secara formal, leluhur Nias telah mengenal konsep pencipta langit dan bumi yang disebut melalui istilah Luolani (matahari dan langit), kemudian diperkuat oleh ajaran penginjil Denninger. Angka genap dianggap sebagai milik Tuhan, sedangkan angka ganjil merupakan milik manusia karena masih dapat bertambah.

Pembangunan tangga ini direncanakan, dilaksanakan, dan diresmikan oleh para bangsawan atau ningrat desa. Prosesi peresmian dilakukan dengan menyembelih puluhan ekor babi. Di bagian atas tangga didirikan sebuah batu bernama Rane yang berarti benteng. Pada area pekarangan juga ditempatkan batu-batu yang berfungsi sebagai tempat duduk penjaga atau ronda malam desa.

Di bagian atas tangga terdapat ukiran monyet dari batu. Ukiran tersebut melambangkan sifat kewaspadaan, karena monyet dikenal selalu menempatkan satu ekor penjaga di tempat tinggi saat kelompok lainnya mencari makanan di ladang. Oleh karena itu, motif monyet sering dijadikan ukiran khas di Nias.

Di bawah batu Rane juga ditempatkan beberapa binu (kepala manusia) yang berasal dari tawanan perang. Hal tersebut dipercaya bertujuan untuk memperkokoh pintu gerbang desa. Pintu masuk utama ini berada di sebelah barat desa dan dikenal dengan nama Ndrölö Ana’a.

Gambar 1. Bawagöli Ndrölö Ana'a (Pintu Masuk Utama)

Deskripsi:
Pintu gerbang utama menuju halaman Desa Bawomataluo ini memiliki 81 anak tangga dengan kondisi yang masih sangat baik. Hingga saat ini, tangga tersebut masih digunakan oleh masyarakat lokal maupun wisatawan yang berkunjung.

2.    BATU NI'OTUMBA

Sejarah:
Daro-daro Ni’otumba merupakan batu berbentuk bulat yang berada di pelataran pintu gerbang utama (Bawagöli) Desa Bawomataluo. Dahulu, batu ini terletak di wilayah perbatasan antara Desa Orahili dan Desa Bawomataluo. Namun, pada sekitar tahun 1970–1980-an, batu tersebut dipindahkan ke pintu gerbang Desa Bawomataluo atas inisiatif almarhum Awani Wau bergelar adat Si’ulu Bulusa Maenamolo, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Desa.

Pemindahan dilakukan dengan izin bangsawan Desa Orahili karena pada masa tersebut marak terjadi pencurian dan penjualan benda-benda antik oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Batu ini dipindahkan agar terhindar dari kerusakan, kehilangan, maupun pencurian.

Daro-daro Ni’otumba berbentuk menyerupai tumba, yaitu alat takar tradisional beras atau padi masyarakat Nias yang berkapasitas delapan muk atau teko (siwalu). Dari bentuk itulah nama Ni’otumba berasal.

Di lokasi awalnya, terdapat pula batu berwarna putih dengan permukaan kasar yang disebut batu si faranarana. Batu tersebut digunakan sebagai alas pemenggalan kepala dalam pelaksanaan hukuman mati berdasarkan hukum adat Bawomataluo, namun tidak ikut dipindahkan bersama Daro-daro Ni’otumba.

Fungsi utama Daro-daro Ni’otumba adalah sebagai tempat duduk eksekutor dalam pelaksanaan hukuman pemenggalan kepala terhadap pelanggar berat yang telah dijatuhi hukuman mati berdasarkan hukum adat Desa Bawomataluo.

Gambar 2. Batu Ni’otumba

Deskripsi:
Daro-daro Ni’otumba terbuat dari batu berbentuk bulat menyerupai alat takar tradisional beras atau padi masyarakat Nias yang disebut tumba, dengan kapasitas delapan teko (muk). Saat ini, batu tersebut berada di pelataran pintu gerbang utama (Bawagöli) Desa Bawomataluo dan masih terjaga keberadaannya sebagai bagian dari warisan budaya adat masyarakat setempat.

3.    BALE GORAHUA

Sejarah:

Setelah Omo Nifolasara (rumah adat besar) selesai dibangun, maka dibuatlah Bale Gorahua (balai desa) yang difungsikan sebagai tempat pertemuan dan berbagai kegiatan masyarakat. Pembuatan Bale Gorahua hampir serupa dengan rumah adat, hanya saja bagian ruang dalamnya terbuka dan tidak disekat.

Struktur bangunan menggunakan sikhöli yang saling berkaitan dengan balo-balo dan folanö. Tiang-tiang bangunan juga saling terhubung melalui silötö dan lalihowo, serta diperkuat dengan penyangga yang disebut ndriwa.

Di tengah ruangan dipasang 4 tiang besar yang dinamakan Osali. Pada pangkal bagian dalam keempat tiang tersebut ditempatkan 4 batu tempat duduk. Batu tersebut merupakan tempat duduk Si’ulu atau bangsawan yang berkuasa ketika berlangsungnya persidangan adat.

Sementara itu, pada keempat sudut Bale Gorahua terdapat tempat bagi Balo Zi’ila. Pada keempat sisi bangunan juga dipasang tiang-tiang kecil berupa kayu bulat sebagai penunjang lagö-lagö atau penutup bagian atas bangunan. Selanjutnya dipasang tiang tengah dari dasar lantai hingga ke bagian atas bangunan. Pada bagian atas tiang tengah dipasang Bule atau nock.

Setelah itu dipasang gaso matua sebagai tempat pengikat. Di atas gaso matua dipasang lata gasö atau reng, lalu di atas reng disusun gasö-gasö yang terbuat dari nibung atau hoya. Setelah seluruh rangka selesai, dipasang atap dari daun sagu atau daun rumbia yang telah disiapkan sebelumnya. Bale Gorahua juga diberi bure pada bagian atasnya, sebagaimana rumah adat Nias pada umumnya.

Setelah selesai dibangun, Bale Gorahua digunakan sebagai tempat gorahua atau musyawarah yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat desa. Segala keputusan adat dan kepentingan bersama dibicarakan serta diputuskan di tempat tersebut. Tangga Bale Gorahua dibuat dari batu-batu bulat yang dipasang di sisi kiri dan kanan agar masyarakat dapat naik dan masuk ke dalam balai desa.

Gambar 3. Bale Gorahua

Deskripsi:
Setelah Omo Nifolasara atau Omo Sebua selesai dibangun, Bale Gorahua kemudian didirikan sebagai balai sidang, balai penghakiman, atau balai persidangan adat yang fungsinya serupa dengan pengadilan pada masa sekarang. Bale Gorahua digunakan sebagai tempat musyawarah dan persidangan untuk memutuskan hukuman bagi seseorang yang melakukan pelanggaran berat menurut hukum adat Desa Bawömataluo.

Pelanggaran berat yang disidangkan di Bale Gorahua antara lain:

  1. Sanada ero göli, yaitu pengkhianatan terhadap desa.
  2. Mohorö, yaitu perzinahan.
  3. Samaigi sondri, yaitu dengan sengaja melihat, mengintip, atau melewati orang yang sedang mandi.

Tidak semua perkara diselesaikan di Bale Gorahua, melainkan hanya pelanggaran berat. Ungkapan seperti “He... maörugi harehare mbale” merupakan bentuk penghinaan atau howõhowõ yang menggambarkan aib besar, khususnya bagi perempuan yang dianggap telah melakukan pelanggaran adat berat. Ungkapan lain seperti “Ma ilau zekhula” atau “Ma ilau nohi” juga menggambarkan penghinaan adat terhadap perempuan yang telah melanggar adat dan memasuki Bale Gorahua.

Bentuk tangga Bale Gorahua dibuat menyerupai pijakan pohon kelapa sehingga pada masa dahulu hanya laki-laki yang dianggap pantas untuk naik dan memasuki Bale Gorahua.

Apabila dalam persidangan tidak ditemukan penyelesaian atas pelanggaran yang dilakukan terpidana, maka hukuman terakhir adalah hukuman mati. Terpidana akan dibawa ke Sungai Namo Sifelendrua untuk dieksekusi, kecuali jika mampu membayar tebusan. Selain itu, Batu Faöndru dan Batu Ni’otumba juga menjadi tempat pelaksanaan eksekusi hukuman mati. Dahulu, Batu Ni’otumba berada di wilayah antara Desa Orahili Fau dan Bawömataluo sebelum dipindahkan oleh Awani Wau saat menjadi bangsawan penguasa dan Kepala Desa Bawömataluo.

Di samping Batu Ni’otumba terdapat batu lain berwarna putih dan berpermukaan kasar yang disebut batu sifaranarana. Batu tersebut digunakan sebagai alas pemotongan kepala bagi terpidana hukuman mati, namun tidak ikut dipindahkan ke Bawömataluo dan kini tidak diketahui lagi keberadaannya.

Struktur Bale Gorahua hampir sama dengan rumah adat di Bawömataluo. Struktur bawah menggunakan tiang ehomo dan tiang menyilang ndriwa. Dua balok panjang yang menghubungkan barisan tiang kiri dan kanan disebut sikhöli, sedangkan silötö berfungsi menyatukan seluruh struktur bawah bangunan.

Pada bagian tengah Bale Gorahua terdapat 4 tiang besar beserta tahta batu yang disebut Osali. Di tempat inilah 4 orang bangsawan yang telah sempurna kebangsawanannya (Si’ulu Si Ma’awali) duduk saat memimpin persidangan adat. Hanya mereka yang berhak duduk di tempat tersebut dan mereka harus bersikap adil serta tidak memihak dalam memutuskan hukum adat.

Di sekeliling Bale Gorahua terdapat bangku bagi para si’ila yang mengikuti persidangan. Sementara itu, pada setiap sudut Ba zi’öfa talina duduk 4 orang Balo Zi’ila. Posisi tersebut menunjukkan susunan dan peran dalam persidangan adat masyarakat Bawömataluo.

4.    BATU ITÖ

Sejarah:

Batu yang berbentuk seperti peti mati ini disebut Batu Itö. Batu-batu lain dengan bentuk serupa juga disebut dengan nama yang sama. Batu Itò diambil dari Sungai Batu Buaya, kemudian dibawa dan ditempatkan di depan Bale Gorahua atau balai desa.

Di bagian samping Batu Itö terdapat sebuah meriam yang terbuat dari kuningan. Meriam tersebut merupakan hasil rampasan pasukan Saönigeho pada masa perang Saönigeho di wilayah Hilisao’toniha hingga wilayah Rantai Batu, Pantai Teluk Dalam, Nanowa, dan Hilitobara pada zaman penjajahan Belanda.

Gambar 4. Batu Itö

Deskripsi:

Batu Itö masih terawat dengan baik dan hingga saat ini masih digunakan sebagai tempat duduk oleh masyarakat Desa Bawomataluo maupun para pengunjung.

5.    5. HOMBO BATU

Sejarah:
Pada zaman sebelum Desa Bawomataluo berdiri, telah ada desa-desa lain yang dipagari menggunakan batang pohon kelapa atau bambu berduri. Tujuannya untuk menahan musuh agar tidak dapat memasuki desa. Pada masa itu sering terjadi pertengkaran dan peperangan antar desa untuk memperluas wilayah serta menguasai lahan dan penduduk desa lain.

Oleh karena itu, bangsawan dan si’ila (cendikiawan) Desa Bawomataluo memerintahkan pembuatan Hombo Batu sebagai sarana latihan bagi para pemuda sebelum terjun ke medan perang. Para pemuda dilatih untuk melompati batu tanpa menyentuh bagian ujung atas batu dengan kaki.

Bagi pemuda yang berhasil melewati Hombo Batu, akan diberikan penghargaan berupa Kalabubu yang terbuat dari batok kelapa sebagai hadiah utama. Selain itu, mereka juga dibebaskan dari utang pembayaran atau upeti kepada Tuhenori (Kepala Negeri) yang sekarang dikenal sebagai Kepala Desa. Pemuda yang berhasil melompati batu setinggi 2,10 meter, lebar 62 cm, dan panjang 90 cm tersebut juga akan disebut sebagai kesatria dan dianggap siap untuk berperang.

Gambar 5. Hombo Batu

Deskripsi:
Hombo Batu atau Lompat Batu merupakan salah satu atraksi budaya khas Desa Bawomataluo yang masih dipertunjukkan hingga saat ini kepada wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Tradisi ini menjadi simbol keberanian, ketangkasan, dan kesiapan pemuda Nias dalam menghadapi peperangan pada masa lalu.

6.    RUMAH ADAT (DIHUNI OLEH AHLI WARIS DALIZISÖCHI MANAÖ)

Sejarah:
Pada awal pembangunan rumah adat di Desa Bawomataluo, bentuk bangunannya belum sempurna karena tiang-tiang rumah masih ditanam langsung ke dalam tanah. Rumah tersebut memang selesai dibangun, namun tidak lama kemudian tiang-tiangnya cepat lapuk sehingga rumah roboh.

Kemudian ada seorang perempuan yang sangat bijaksana bernama Torosi yang memberikan saran kepada suaminya agar seluruh tiang rumah diletakkan di atas batu yang rata, bukan ditanam ke dalam tanah. Selain itu, semua tiang harus saling berkaitan satu sama lain melalui ikatan yang disebut seloto dan lalihowo, serta diberi penyokong yang dinamakan driwa.

Setelah struktur dasar selesai, bangunan diperkuat lagi dengan sichöli kanan dan kiri yang dikaitkan dengan folanö dan balo-balo. Pada bagian muka rumah dipasang driwa muka yang pangkalnya saling berhadapan dan ujungnya berkaitan dengan sichöli kanan dan kiri. Setelah itu dinding dipasang di atas sichöli dengan bagian bawahnya ditanam di atas sichöli.

Pada bagian kiri, kanan, dan muka rumah dipasang towa nulu, lalu di atasnya dipasang farachina (dane-dane). Di atas dane-dane dipasang towa dane-dane, kemudian salogoto. Pada bagian salogoto terdapat zara-zara yang berfungsi sebagai jendela untuk melihat ke pekarangan atau ke bagian depan rumah. Di atas zara-zara dipasang harefa.

Pada ujung dinding kiri dan kanan dipasang lagö-lagö sebagai penutup ujung dinding bagian atas. Di bagian muka rumah dipasang lagö-lagö harefa kiri dan kanan, lalu dipasang dinding harefa dan penutup kayu pada bagian ujungnya. Selanjutnya dipasang seloto mbato pada dinding tebal towa sebua, yang ujungnya berkaitan dengan dinding kiri dan kanan. Di atasnya dipasang lagö-lagö sideide (penutup kayu kecil), kemudian lalihowo mbato. Tahap ini disebut sagoto bato.

Di atas penutup kayu kecil tersebut dipasang dinding-dinding kecil dengan jarak sekitar 10 cm, lalu dipasang lagi lagö-lagö sideide yang disebut sinataru. Susunan ini terus dibuat hingga ke bagian atas rumah dan semakin mengecil sampai mencapai bule, yaitu penutup terakhir atau nock.

Setelah itu dipasang gaso matua yang ukurannya disesuaikan dengan tinggi sinataru. Bentuk dan proses pembuatan bagian muka rumah sama dengan bagian belakang rumah. Bagian depan disebut tawolo, sedangkan bagian belakang disebut foroma, berasal dari kata moro yang berarti tempat tidur. Pada bagian foroma dibuat kamar atau tempat tidur yang disebut kolu-kolu untuk pengantin baru, serta dibuat juga tempat memasak yang disebut awu (dapur).

Selanjutnya dipasang tempat pengikat atap yang disebut gaso yang terbuat dari hoya (nibung). Setelah itu, atap daun rumbia yang telah disiapkan diikat pada gaso mulai dari bawah hingga menutupi seluruh rumah. Di dalam rumah juga dipasang ahembato dan bato yang terbuat dari kayu, baik di bagian depan maupun belakang rumah.

Setelah seluruh rumah selesai dan rapi, dilaksanakan upacara Tawila Fame Wuasi, yaitu peresmian rumah sebagai tanda bahwa rumah sudah selesai dibangun dan dapat dihuni. Upacara peresmian dilakukan dengan penyembelihan puluhan ekor babi untuk keluarga, si’ulu, si’ila, dan masyarakat desa lainnya.

Gambar 6. Rumah Adat (Dihuni Oleh Ahli Waris Dalizisöchi Manaö)

Deskripsi:
Rumah adat ini menggunakan kayu ulin besar sebagai material utama konstruksinya sehingga bangunannya kokoh dan tahan lama. Struktur bangunannya menggunakan sistem sambungan tradisional khas Nias yang saling mengikat tanpa menggunakan paku.

7.    OMO NIFOLASARA / OMO SEBUA

Sejarah:

Sejarah Omo Nifolasara atau Omo Sebua tidak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya Desa Bawömataluo. Pada tahun 1863, Belanda yang dipimpin Mayor H.J. Fritzen membumihanguskan Desa Orahili Fau dan Botohősi. Akibat serangan tersebut, masyarakat Orahili Fau melarikan diri dan mengungsi hingga ke Baruző Sifaedo-Gomo.

Pada tahun 1867, masyarakat Orahili Fau kembali ke Lubodambu (Orahili Fau) dan mulai mencari lokasi perkampungan baru. Mereka mencari tempat yang diyakini memiliki tanda-tanda baik untuk perkembangan kehidupan manusia di masa mendatang. Lokasi tersebut kemudian menjadi Desa Bawömataluo sekarang.

Pembukaan dan pendirian perkampungan baru diprakarsai oleh Amada Föna'oli'ö Wau. Beliaulah yang melakukan ritual Fananő Fakhe dan pemeriksaan sumber air di lokasi desa baru tersebut. Karena jasanya, beliau diberi gelar adat Tuha Fanayama, sehingga perkampungan baru itu diberi nama Hilifanayama.

Penguasa Hilifanayama selanjutnya adalah Amada Laowö yang mendapat gelar adat Tuha Famaedodanő, sehingga desa tersebut juga dikenal dengan nama Hilifamaedodanő. Laowö merupakan anak saudara dari Föna'oli'ö dan menjadi penerus kekuasaan sesuai aturan adat yang mengharuskan pergantian kepemimpinan dilakukan secara bergantian antar keturunan bangsawan.

Mahakarya terbesar Laowö adalah memulai pembangunan Omo Sebua atau Omo Nifolasara pada tahun 1878. Saat Laowö meninggal pada tahun 1902, pembangunan rumah tersebut baru mencapai satu tingkat di atas struktur tengah, sejajar dengan lagölagő dan ventilasi atap lawalawa. Sebagian besar material bangunan diambil dari hutan sekitar Bawömataluo seperti Hilimondregeraya, Hilinamōza'ua, dan Hilinawalő Fau. Sebagian kayu lainnya didatangkan dari Pulau Tello atau Pulau-Pulau Batu, seperti kayu cholocholo, salogotő, dan lantai batő dari kayu kavini. Kepala tukang sekaligus pengukir ornamen rumah adalah Olitöföna.

Dalam syair hoho, Omo Sebua disebut:

"Omo famaedo danö, mai'otahögö Mazinö, maisalogoi Maenamölö."

Artinya rumah besar itu diibaratkan sebagai dunia yang menghadap ke wilayah Mazinő dan menaungi seluruh Maniamölő.

Pembangunan rumah kemudian diselesaikan oleh putra Laowö bernama Saönigeho alias Siliwugere. Selanjutnya, putra Saönigeho bernama Ruyu mengganti atap daun rumbia (bulu zaku) menjadi seng sehingga rumah tersebut juga dikenal sebagai “Omo Ruyu”. Pergantian atap ini membantu memperpanjang usia bangunan hingga tetap bertahan sampai sekarang.

Pada masa Laowö, nama Hilifanayama diubah menjadi Bawömataluo yang berarti “Bukit Matahari”, yaitu bukit tempat matahari memancarkan sinarnya ke desa-desa lain di sekitarnya.

Omo Nifolasara atau Omo Sebua merupakan rumah adat berbentuk rumah panggung yang dibangun di atas tiang-tiang kayu besar dan tinggi. Rumah ini khusus dibangun bagi bangsawan yang telah sempurna kebangsawanannya (Si'ulu Si Ma'awali atau Balő Ziulu). Rumah ini memiliki ciri khas tiga kepala Lasara pada bagian depan sehingga disebut Omo Nifolasara. Dalam pengertian lama di Gomo, Lasara merupakan istilah kuno untuk perahu, sedangkan Högő Lasara adalah kepala anjungan perahu. Karena itu rumah ini diibaratkan sebagai perahu besar atau kapal.

Akses masuk rumah dibuat melalui kolong dan tangga sebagai bentuk penghormatan kepada pemilik rumah. Pintu masuk sejajar dengan lantai juga berfungsi sebagai pintu jebakan untuk mengontrol musuh saat terjadi peperangan. Bentuk atap yang sangat curam hingga mencapai sekitar 16 meter membuat rumah tahan terhadap hujan dan gempa bumi.

Gambar 7. Omo Nifolasara / Omo Sebua

Deskripsi:

Omo Nifolasara atau Omo Sebua merupakan rumah adat berukuran raksasa yang dibangun menggunakan material utama kayu besar dan kokoh. Struktur bangunan terdiri dari struktur bawah, tengah, dan atas.

Struktur bawah dimulai dari batu gehomo, ehomo, batu ndriwa, dan ndriwa. Tiang ehomo terdiri dari 6 baris ke samping dan 11 deret dari depan ke belakang. Seluruh struktur bawah diikat oleh silötő dan diperkuat oleh lali'öwõ yang sekaligus menjadi alas lantai (batő). Sistem sambungan ini membuat rumah sangat kuat dan tahan gempa.

Pada bagian depan terdapat balobalo sebagai alas papan dinding depan, sedangkan bagian atas struktur bawah ditutup dengan sikhöli. Struktur atas dimulai dari lagölagő hingga bule, yaitu balok penutup bubungan rumah. Struktur atas disusun bertingkat hingga sembilan tingkat buatö dan dilengkapi ventilasi atap lawalawa.

Rumah ini terdiri dari dua ruangan utama, yaitu tawolo sebagai ruang depan untuk umum dan föröma sebagai ruang keluarga. Di bagian belakang terdapat kolu-kolu sebagai ruang tidur keluarga, awu sebagai dapur, dan ulahe sebagai tempat pembuangan kotoran. Terdapat pula ruangan khusus bernama Malige untuk memantau tamu sebelum diterima masuk ke dalam rumah.

Pada ruang depan terdapat tiang penuh ukiran cholocholo, tahta leluhur nahia nadu, serta berbagai ornamen yang menunjukkan kesempurnaan status sosial pemilik rumah. Dahulu ruangan depan juga dihiasi patung ayam jago La'ia sebagai simbol kebangsawanan Si'ulu Si Ma Awali.

Lantai rumah memiliki tingkatan, yaitu:

  1.      Ahe mbato sebagai lantai dasar.
  2.      Bato atau harehare sebagai lantai tingkat kedua.
  3.     Farakhina atau dane-dane sebagai tempat duduk tertinggi.

·      Harefa sebagai tempat penyimpanan barang.Ventilasi zarazara dan lawalawa berfungsi untuk sirkulasi udara, pencahayaan, serta memantau keadaan di luar rumah tanpa terlihat dari luar.

Empat tiang utama yang berdiri di atas batu gehomo melambangkan empat Si'ulu sebagai Ehomo Fabanuasa dan empat Si'ila sebagai penyangga kehidupan masyarakat desa. Sementara siloto gahe bato atau lalihowo gahe mbato melambangkan masyarakat umum (sato) yang saling menguatkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Rumah adat ini menjadi simbol kosmologi masyarakat Nias atau omo famaedo danö yang menggambarkan dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah (banua tou/arö danő). Hingga kini, Omo Nifolasara atau Omo Sebua tetap menjadi simbol kebesaran adat, arsitektur, dan kepemimpinan masyarakat Desa Bawömataluo.

8.    DARO-DARO DUADA LAWÖLÖ

Sejarah:

Daro-daro merupakan simbol kebangsawanan yang dibuat ketika seorang bangsawan telah meninggal dunia. Selain sebagai simbol penghormatan, daro-daro juga digunakan sebagai tempat duduk para bangsawan saat melakukan musyawarah (orahu) di halaman rumah.

Batu-batu yang terdapat pada Daro-daro Duada Lawölö memiliki fungsi dan makna yang berbeda. Batu yang berbentuk tidur merupakan batu peringatan setelah seseorang meninggal dunia. Sementara batu yang berdiri disebut batu vaulu, yaitu batu yang menandakan peraihan gelar kebangsawanan.

Terdapat pula batu berdiri berbentuk bulat dengan bagian ujung menyerupai topi. Pada bagian bawahnya terdapat lubang yang digunakan sebagai tempat menggantung ereba atau baju raja yang terbuat dari emas. Baju tersebut digantung apabila terjadi pertengkaran antarwarga sebagai tanda agar pertikaian segera dihentikan.

Apabila pertengkaran tidak dihentikan, maka raja akan memerintahkan hulubalang atau ajudannya untuk menggantung topi emas sebagai tanda bahwa raja mulai marah besar. Tanda tersebut menunjukkan bahwa pihak yang bertikai dapat dikenakan hukuman berat berupa Fogau, yaitu denda 3 x 4 alisi babi hidup berukuran tiga, serta denda emas anaiwa jiulu berupa 3 tolu batu atau 3 paul emas sebagai bentuk penghormatan kepada bangsawan.

Gambar 8. Daro-daro Duada Lawölö

Deskripsi:

Daro-daro yang terbuat dari batu dan berada di halaman rumah digunakan sebagai tempat duduk para bangsawan ketika melaksanakan musyawarah (orahu). Batu-batu tersebut masih terawat dan menjadi simbol kebangsawanan serta hukum adat masyarakat Desa Bawomataluo.

9.    BATU ITÖ BULAT

Sejarah:

Batu yang memiliki empat tiang batu bulat panjang ini dinamakan Cholo-cholo. Cholo-cholo merupakan tempat bagi bangsawan yang telah dinobatkan menjadi raja. Sementara Cholo-cholo di sebelah kiri digunakan sebagai tempat bagi wanita bangsawan yang telah dinobatkan menjadi permaisuri raja.

Pada sudut batu peringatan terdapat batu bulat yang berdiri dengan bagian ujung atas berbentuk seperti topi. Batu tersebut digunakan sebagai tempat meletakkan topi raja yang terbuat dari kain kesumba. Apabila terjadi pertengkaran di dalam desa, maka topi raja akan diletakkan di atas ujung batu tersebut sebagai tanda agar pihak yang bertengkar segera menghentikan pertengkaran mereka.


Gambar 9. Batu Itö Bulat

Deskripsi:

Batu Itö Bulat berada dalam kondisi bersih dan terjaga dengan baik sebagai bagian dari peninggalan adat dan simbol kebangsawanan masyarakat Desa Bawomataluo.

10.  RUMAH ADAT FOCIAKO WAU

Sejarah:

Rumah Adat Fociako Wau awalnya dibangun di Desa Orahili, kemudian dipindahkan ke Desa Bawomataluo dan digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat di desa tersebut.

Gambar 10. Rumah Adat Fociako Wau

Deskripsi:

Bangunan ini menggunakan kayu ulin besar sebagai material utama konstruksinya sehingga kokoh dan tahan lama. Dinding rumah disusun dari tumpukan kayu yang melingkar, kemudian ditutup dengan atap yang menjulang tinggi. Bentuk bangunan seperti ini efektif untuk melindungi rumah dari hujan.

Akses masuk ke dalam rumah hanya melalui tangga sempit yang dilengkapi pintu kecil di bagian atasnya.

11.  BAWAGÖLI ZIMANDRAÖLÖ (Pintu Gerbang Lorong Raya)

Sejarah:

Ndrölö Zimandraölö yang berada di sebelah timur dibangun dengan cara yang hampir sama seperti tangga di sebelah barat, hanya ukurannya lebih pendek. Jumlah anak tangga pada gerbang ini adalah 15. Sebenarnya pada anak tangga ke-14 permukaannya sudah sejajar dengan halaman desa, namun karena masyarakat pada masa itu tidak memperbolehkan angka genap, maka dibuat tambahan batu lebar di bagian atas agar jumlah anak tangga menjadi 15.

Tangga ini diselesaikan oleh para Si’ila atau cendikiawan desa. Tangga dibuat seindah mungkin karena menjadi jalur penghubung dengan desa-desa pendukung Bawomataluo, seperti Hilinawalo Fau, Onohondro Fau, dan Lahusa Fau. Tujuannya agar masyarakat yang datang ke Desa Bawomataluo merasa nyaman dan senang saat melewati gerbang tersebut.

Pada tangga ini juga dibuat Rane atau benteng sebagai bagian dari sistem pertahanan desa apabila datang musuh. Di bagian ujung pintu gerbang, sebelah kiri terdapat Lawölö Batu, sedangkan di sebelah kanan belakang terdapat batu bulat yang digunakan sebagai tempat duduk imam.

Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, apabila datang berita bahaya dari arah timur, imam akan duduk di batu tersebut dan mengucapkan doa atau sembahyang agar roh-roh yang dipanggil masuk ke dalam Lawölö Batu. Dengan kekuatan mistik tersebut, Lawölö Batu dipercaya dapat menyerang musuh dan kembali ke tempatnya setelah tugasnya selesai.

Gambar 11. Bawagöli Zimandraölö

Deskripsi:

Bawagöli Zimandraölö masih digunakan oleh masyarakat hingga saat ini dan memiliki jumlah 15 anak tangga yang tetap terjaga dengan baik.

12.  LAWÖLÖ BATU DI BAWAGÖLI RAYA

Sejarah:

Lawölö Batu yang bentuknya menyerupai naga ditempatkan di Bawagöli Raya sebagai simbol pertahanan desa. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, Lawölö Batu dipercaya memiliki kekuatan mistik untuk mengusir atau menahan musuh yang datang dari luar desa.

Gambar 12. Lawölö Batu

Deskripsi:

Lokasi Lawölö Batu masih dalam kondisi bersih dan terjaga dengan baik sebagai bagian dari peninggalan budaya Desa Bawomataluo.

13.  HELE NDRA MATUA (Pemandian Umum Laki-laki)

Sejarah:

Pada zaman dahulu, Hele Ndra Matua digunakan sebagai pemandian umum bagi laki-laki untuk membersihkan diri setelah beraktivitas seharian, baik dari kebun karet maupun persawahan.

Keberadaan Hele memiliki kaitan erat dengan sejarah berdirinya Desa Bawömataluo. Setelah Desa Orahili Fau diserang dan dibumihanguskan oleh Belanda pada tahun 1863, masyarakat mengungsi ke Baruző Sifaedo. Ketika keadaan mulai aman, mereka kembali dan mencari lokasi baru untuk membangun perkampungan yang kemudian menjadi Desa Bawömataluo.

Pendiri desa, Föna'oli'ő Fau atau Tuha Fanayama, terlebih dahulu memeriksa ketersediaan sumber air sebagai syarat utama kehidupan manusia. Karena itulah Hele menjadi salah satu penanda penting bahwa lokasi tersebut layak dijadikan permukiman. Selain memeriksa sumber air, mereka juga menanam bibit padi untuk melihat tanda-tanda kesuburan tanah dan perkembangan kehidupan di masa depan.

Bagi masyarakat Bawömataluo, Hele bukan hanya tempat mandi, tetapi juga memiliki fungsi sosial dan budaya, yaitu:

1.    Sebagai sarana mengajarkan budaya antre, saling bergantian, dan menghargai giliran. Masyarakat diajarkan untuk sabar menunggu giliran menggunakan air di pemandian umum.

2.  Sebagai sarana membuang duka. Setelah pemakaman anggota keluarga, keluarga yang berduka akan mencuci wajah di Hele sambil membuang ikat kepala sebagai simbol agar segala kesedihan dan hal buruk hanyut bersama aliran air.

3.    Sebagai bagian dari tradisi pengantin baru, khususnya pengantin perempuan. Pada hari pertama berada di Desa Bawömataluo, pengantin perempuan akan diantar dan ditemani keluarga suaminya mandi di Hele agar tidak merasa malu atau canggung berada di tengah masyarakat yang belum dikenalnya.

4.    Sebagai tempat belajar bersosialisasi, bercanda, menerima kritik, dan mengendalikan emosi. Saat mandi bersama, masyarakat saling berbicara dan bergurau sehingga setiap orang dibiasakan untuk tidak mudah tersinggung atau marah.

Di luar Hele terdapat Daro-daro Nicholo atau Daro-daro Zana'a, yaitu tempat duduk pengawal keamanan raja atau permaisuri ketika sedang mandi. Para pengawal berjaga dengan senjata lengkap agar tidak ada warga lain yang masuk ke area pemandian saat raja atau permaisuri berada di sana.

Dahulu juga terdapat batu tegak setinggi sekitar satu setengah meter dengan bagian atas menyerupai topi. Batu tersebut digunakan untuk menggantung sõu atau tudung milik permaisuri raja ketika mandi. Keberadaan tudung yang digantung menjadi tanda bahwa warga lain tidak boleh memasuki pemandian umum tersebut. Batu tegak itu kini telah dipindahkan ke pintu gerbang desa Bawagöli Löu.

Selain itu, di bagian dalam Hele terdapat Daro-daro dari batu yang digunakan sebagai tempat duduk penjaga keamanan raja. Penjaga tersebut harus menghadap ke arah luar untuk mengawasi kemungkinan datangnya musuh dari desa lain.

Gambar 13. Hele Ndra Matua

Deskripsi:

Saat ini Hele Ndra Matua masih digunakan oleh masyarakat setempat. Pada lokasi pemandian telah dipasang dinding permanen setinggi sekitar 1,8 meter. Pemandian memiliki dua pintu, yaitu pintu masuk di sebelah timur dan pintu keluar di sebelah barat. Namun, jalan menuju lokasi masih perlu dibenahi karena beberapa batu pada area pemandian telah hilang.

14.  HELE NDRA'ALAWE (Pemandian Umum Wanita)

Sejarah:

Pada zaman dahulu, Hele Ndra'alawe digunakan sebagai pemandian umum bagi para wanita untuk membersihkan diri setelah beraktivitas seharian, baik dari kebun karet maupun persawahan. Selain sebagai tempat mandi, pemandian ini juga memiliki fungsi sosial dan adat dalam kehidupan masyarakat Desa Bawomataluo.

Pancuran umum perempuan digunakan sebagai tempat mencuci muka bagi keluarga yang sedang berduka. Setelah seseorang dimakamkan, keesokan harinya keluarga dan kerabat wajib datang ke pancuran umum untuk mencuci muka sebagai simbol membersihkan diri dari duka cita. Kegiatan ini biasanya dilakukan bersama keluarga lain yang ikut mendampingi keluarga duka, sekaligus mandi bersama di pancuran tersebut.

Selain itu, perempuan yang baru menikah juga akan diantar mandi ke pancuran umum oleh kerabat dan keluarga suaminya pada hari berikutnya setelah pernikahan sebagai bagian dari tradisi adat masyarakat setempat.

Gambar 14. Hele Ndra'alawe

Deskripsi:

Pemandian ini berbentuk persegi dengan pintu masuk dari arah selatan. Ukuran pintu masuk sekitar 2 meter dengan lebar 1 meter dan tinggi 3 meter. Pintu masuk terbuat dari susunan batu yang dipasang secara vertikal tanpa menggunakan perekat.

Setelah melewati pintu masuk, terdapat jalan setapak yang berbelok ke arah utara sejauh kurang lebih 2 meter, kemudian dilanjutkan dengan menuruni 6 anak tangga ke arah barat menuju kolam bagian dalam.

Di dalam area pemandian terdapat Daro-daro berbentuk huruf U yang digunakan untuk mencuci pakaian. Pemandian umum ini hingga kini masih menjadi bagian penting dari tradisi dan kehidupan masyarakat Desa Bawomataluo.

 

15.  MAKAM NITOU'Ö FAU

Sejarah:

Makam Nitou'ö Fau merupakan area pemakaman yang digunakan khusus oleh masyarakat Desa Bawomataluo. Makam ini menjadi bagian dari tradisi dan penghormatan masyarakat terhadap leluhur serta keluarga yang telah meninggal dunia.

Gambar 15. Makam Nitou'ö Fau

Deskripsi:

Kondisi Makam Nitou'ö Fau masih terawat dengan baik dan telah dilengkapi pagar pembatas. Perawatan makam umumnya dilakukan oleh pihak keluarga karena tidak terdapat juru pelihara khusus (jupel).

Akses menuju makam melalui Desa Bawomataluo, Dusun 6, dengan jalan masuk dari pinggir jalan sekitar ±60 meter menuju lokasi makam. Letak makam berada di kaki bukit dan umumnya berada di pinggir jalan.

Area situs makam berbentuk persegi panjang dan di dalamnya terdapat tujuh kuburan. Makam-makam tersebut memiliki dasar berupa wadah kubur berbentuk kalabubu yang sangat dihormati dalam kebudayaan masyarakat Bawomataluo.

Kondisi lasara pada area pemakaman masih terawat dan tidak mengalami kerusakan yang dapat mengancam keberadaan situs makam ini.

 

16.  MAKAM SAONIGEHO

Sejarah:

Makam Saonigeho merupakan makam seorang pahlawan dari Kepulauan Nias, khususnya dari wilayah Nias Selatan. Makam ini menjadi salah satu bentuk penghormatan masyarakat terhadap tokoh penting dalam sejarah dan perjuangan masyarakat Nias.

Gambar 16. Makam Saonigeho

Deskripsi:

Makam ini berada di tanah adat Desa Bawomataluo, Dusun 6. Peti jenazah yang digunakan terbuat dari kayu dan diletakkan di atas batu.

Lokasi makam berada di pinggir jalan dengan jarak sekitar 25 meter dari badan jalan utama. Pada tahun 2018, makam ini dipindahkan ke lokasi baru oleh Lanal Nias.